Langsung ke konten utama

Percuma.

Aku mengutukmu untuk hanyut dari kepalaku

di tiap tetes air mata

dengan setiap batang rokok yang habis di tarikan napas.

Dan jika itu pun tidak mampu menyeretmu keluar

Aku rasa Tuhan memang tidak sebaik itu.

 

Atau aku hanya terlalu cocok sebagai pengemis

Yang begitu kelaparan akan sosok yang mungkin

Tidak begitu peduli pada persimpangan.

 

2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puan Yang Ingin Merangkul Rembulan.

 Aku berlari menuju hujan Yang merintik dalam doa, Dan keinginan seorang puan untuk merangkul rembulan. Jalanan ini tak pernah sepi Kota yang terus berkilat Tanpa kenal kata mati, Memikat kedua matamu untuk terus berharap Menarik mu 'tuk selalu memohon di balik malam gelap. Aku tak pernah mengerti Kesederhanaan dalam batin itu Yang bergejolak menginginkan, Yang hanya sampai pada rasa sedih Dan putus asa. Aku hanya mengerti Bahwa jarak bukan tentang kereta Yang melesat jauh ke Jakarta, Namun tentang kau yang menatapnya Jauh di sana,  Sementara aku terjebak mengejar rintik yang menetes dalam doa. 5 Januari 2025

Penyakit “AKU TAHU! AKU TAHU!!” (CERPEN)

  Sudah beberapa tahun semenjak pandemi berlangsung dan hari-hari semakin suram. Jalanan begitu sepi dan bangunan nampak kosong. Manusia berlomba-lomba mengungsi menjauhi satu sama lain, menjaga jarak sedemikian jauh agar tidak dapat saling mendengar lagi saling berbicara. Semua ini gara-gara penyakit ‘aku tahu.’ Penyakit yang muncul di daerah perkotaan beberapa tahun lalu, melalui beberapa pemuda-orang tua dan menyebar pada setiap manusia yang sanggup berpikir, mendengar, dan berbicara layaknya tetesan air hujan yang menabrak tanah – tidak nampak namun pasti pecah. Dan dalam hitungan hari penduduk satu kota sudah tertular. Beberapa bulan kemudian negeri ini sudah didominasi oleh orang yang berteriak “AKU TAHU! AKU TAHU!!” sambil berlari ke sana kemari, mencari korban baru untuk mendengarkan ocehannya. Meski penyakit ini diketahui datang darimana, tidak satupun orang yang mengerti atau setidaknya mengetahui bagaimana penyakit ini muncul. Ia begitu ganas, menular melalui kata-ka...

Aku kira, kau berhenti.

Aku ingin mengenangmu yang sebentarnya diam di mata. Tentu, jika kamu ada. Hujan ini deras dan merintik di antara terik yang kusayangi dan rintihan yang ada di bawah kulit. Aku tak sebegitu suka dengan suaranya, yang tidak mengijinkanku duduk sendiri dan bersedih. Dan dinginnya memelukku tanpa pernah aku bilang "mau". Ku caci maki Tuhan dan jiwaku yang lama memutus hidup, lalu bangkit tanpa sempat bercerita panjang lebar tentang apa yang ada diujung sana. Namun, sudahlah. Ku ingin bercerita, meski hanya tentangku di bilik kamar yang buruk ini. Kepalaku berputar tanpa sempat berhenti. Dan ku kira, untukmu aku akan berhenti. Ku kira. 2021.