Goresan-goresan di dinding itu menganggungku. Dalam kegelapan yang bercampur oleh goresan semburat mentari terbenam , mereka nampak bicara padaku dalam kalimat-kalimat yang tidak mampu aku telaah, menghipnotisku dengan bayang-bayang gelap dan bisikan yang mengancam untuk mengutuk dan membunuh diriku sendiri. Tiga garis membelah miring sebuah dinding, layaknya kuku-kuku monster yang mampu menggores dinding semen setebal 2 inci hingga memperlihatkan bata merah –daging atau otot-tulang tembok di samping pintu. Goresan itu panjangnya tidak lebih dari satu setengah meter dengan lebar hanya sekitar beberapa inci, namun terkadang terlihat begitu besar setiap cahaya redup memapar padanya dan aku merasa mereka sanggup menelanku dan seluruh isi rumah ke dalam celah yang begitu kecil untuk manusia. Dan itu sangat menghantuiku. Sudah beberapa waktu goresan itu tinggal di sana. Di sudut paling depan rumah, dinding yang dibelakangi setiap manusia yang masuk...
Isinya cerpen sama apa pun itu.