Langsung ke konten utama

Puan Yang Ingin Merangkul Rembulan.

 Aku berlari menuju hujan

Yang merintik dalam doa,

Dan keinginan seorang puan untuk merangkul rembulan.


Jalanan ini tak pernah sepi

Kota yang terus berkilat

Tanpa kenal kata mati,

Memikat kedua matamu untuk terus berharap

Menarik mu 'tuk selalu memohon di balik malam gelap.


Aku tak pernah mengerti

Kesederhanaan dalam batin itu

Yang bergejolak menginginkan,

Yang hanya sampai pada rasa sedih

Dan putus asa.


Aku hanya mengerti

Bahwa jarak bukan tentang kereta

Yang melesat jauh ke Jakarta,

Namun tentang kau yang menatapnya

Jauh di sana, 

Sementara aku terjebak mengejar rintik yang menetes dalam doa.



5 Januari 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penyakit “AKU TAHU! AKU TAHU!!” (CERPEN)

  Sudah beberapa tahun semenjak pandemi berlangsung dan hari-hari semakin suram. Jalanan begitu sepi dan bangunan nampak kosong. Manusia berlomba-lomba mengungsi menjauhi satu sama lain, menjaga jarak sedemikian jauh agar tidak dapat saling mendengar lagi saling berbicara. Semua ini gara-gara penyakit ‘aku tahu.’ Penyakit yang muncul di daerah perkotaan beberapa tahun lalu, melalui beberapa pemuda-orang tua dan menyebar pada setiap manusia yang sanggup berpikir, mendengar, dan berbicara layaknya tetesan air hujan yang menabrak tanah – tidak nampak namun pasti pecah. Dan dalam hitungan hari penduduk satu kota sudah tertular. Beberapa bulan kemudian negeri ini sudah didominasi oleh orang yang berteriak “AKU TAHU! AKU TAHU!!” sambil berlari ke sana kemari, mencari korban baru untuk mendengarkan ocehannya. Meski penyakit ini diketahui datang darimana, tidak satupun orang yang mengerti atau setidaknya mengetahui bagaimana penyakit ini muncul. Ia begitu ganas, menular melalui kata-ka...

Aku kira, kau berhenti.

Aku ingin mengenangmu yang sebentarnya diam di mata. Tentu, jika kamu ada. Hujan ini deras dan merintik di antara terik yang kusayangi dan rintihan yang ada di bawah kulit. Aku tak sebegitu suka dengan suaranya, yang tidak mengijinkanku duduk sendiri dan bersedih. Dan dinginnya memelukku tanpa pernah aku bilang "mau". Ku caci maki Tuhan dan jiwaku yang lama memutus hidup, lalu bangkit tanpa sempat bercerita panjang lebar tentang apa yang ada diujung sana. Namun, sudahlah. Ku ingin bercerita, meski hanya tentangku di bilik kamar yang buruk ini. Kepalaku berputar tanpa sempat berhenti. Dan ku kira, untukmu aku akan berhenti. Ku kira. 2021.