Langsung ke konten utama

Postingan

Lampu Kuning (CERPEN)

  Sudah empat menit aku menunggu ajal yang duduk hanya beberapa langkah dari tempatku berbaring. Seorang pemuda, yang lebih kurangnya akan membunuhku, duduk dengan sikap yang ringan di kursi tempatku biasa menatap matahari terbenam dari kamar ini. Ia memiliki pistol tangan yang entah model apa tergenggam erat di tangannya. Dan meskipun mataku telah kabur sejak lama, aku mampu melihat matanya yang begitu kelabu namun tegas dan tanpa ragu mampu merebut nyawa siapa pun, termasuk putranya sendiri. Sudah sekitar empat tahun aku sakit-sakitan. Kata dokter, paru-paruku mengalami radang yang sangat berat dan terus meluas seiring dengan kondisi tubuhku yang semakin menua. Dan mulai beberapa hari lalu, sesak napas bukan lagi teman satu-satunya di rumah kosong ini. Kelumpuhan kaki telah menjadi teman baru yang tidak begitu menyenangkan. Dan berikutnya, aku hanya tinggal menunggu kematian yang akan datang beberapa saat lagi. Tidak seperti orang lain yang tidak menunggunya, aku rasa mempercep...

Aku kira, kau berhenti.

Aku ingin mengenangmu yang sebentarnya diam di mata. Tentu, jika kamu ada. Hujan ini deras dan merintik di antara terik yang kusayangi dan rintihan yang ada di bawah kulit. Aku tak sebegitu suka dengan suaranya, yang tidak mengijinkanku duduk sendiri dan bersedih. Dan dinginnya memelukku tanpa pernah aku bilang "mau". Ku caci maki Tuhan dan jiwaku yang lama memutus hidup, lalu bangkit tanpa sempat bercerita panjang lebar tentang apa yang ada diujung sana. Namun, sudahlah. Ku ingin bercerita, meski hanya tentangku di bilik kamar yang buruk ini. Kepalaku berputar tanpa sempat berhenti. Dan ku kira, untukmu aku akan berhenti. Ku kira. 2021.

Percuma.

Aku mengutukmu untuk hanyut dari kepalaku di tiap tetes air mata dengan setiap batang rokok yang habis di tarikan napas. Dan jika itu pun tidak mampu menyeretmu keluar Aku rasa Tuhan memang tidak sebaik itu.   Atau aku hanya terlalu cocok sebagai pengemis Yang begitu kelaparan akan sosok yang mungkin Tidak begitu peduli pada persimpangan.   2021

Penyakit “AKU TAHU! AKU TAHU!!” (CERPEN)

  Sudah beberapa tahun semenjak pandemi berlangsung dan hari-hari semakin suram. Jalanan begitu sepi dan bangunan nampak kosong. Manusia berlomba-lomba mengungsi menjauhi satu sama lain, menjaga jarak sedemikian jauh agar tidak dapat saling mendengar lagi saling berbicara. Semua ini gara-gara penyakit ‘aku tahu.’ Penyakit yang muncul di daerah perkotaan beberapa tahun lalu, melalui beberapa pemuda-orang tua dan menyebar pada setiap manusia yang sanggup berpikir, mendengar, dan berbicara layaknya tetesan air hujan yang menabrak tanah – tidak nampak namun pasti pecah. Dan dalam hitungan hari penduduk satu kota sudah tertular. Beberapa bulan kemudian negeri ini sudah didominasi oleh orang yang berteriak “AKU TAHU! AKU TAHU!!” sambil berlari ke sana kemari, mencari korban baru untuk mendengarkan ocehannya. Meski penyakit ini diketahui datang darimana, tidak satupun orang yang mengerti atau setidaknya mengetahui bagaimana penyakit ini muncul. Ia begitu ganas, menular melalui kata-ka...

Goresan di Dinding (CERPEN)

            Goresan-goresan di dinding itu menganggungku. Dalam kegelapan yang bercampur oleh goresan semburat mentari terbenam , mereka nampak bicara padaku dalam kalimat-kalimat yang tidak mampu aku telaah, menghipnotisku dengan bayang-bayang gelap dan bisikan yang mengancam untuk mengutuk dan membunuh diriku sendiri. Tiga garis membelah miring sebuah dinding, layaknya kuku-kuku monster yang mampu menggores dinding semen setebal 2 inci hingga memperlihatkan bata merah –daging atau otot-tulang tembok di samping pintu. Goresan itu panjangnya tidak lebih dari satu setengah meter dengan lebar hanya sekitar beberapa inci, namun terkadang terlihat begitu besar setiap cahaya redup memapar padanya dan aku merasa mereka sanggup menelanku dan seluruh isi rumah ke dalam celah yang begitu kecil untuk manusia. Dan itu sangat menghantuiku. Sudah beberapa waktu goresan itu tinggal di sana. Di sudut paling depan rumah, dinding yang dibelakangi setiap manusia yang masuk...

Maling Maut (CERPEN)

  Malam tidak pernah mengikari janji. Selalu datang ketika mentari terbenam, menyenangkan karena kepastiannya. Jauh dari manusia yang sulit dimengerti, tidak tertebak, dan banyak maunya. Sepertiku, maling terkenal tidak kenal ampun. ‘Maling Maut.’ Begitu Romi pemabuk kampung sebelah menjuluki aku. Ngawur memang itu orang. Karena aku beraksi sendirian dan tidak pernah tertangkap. “Bak Maut yang pasti datang tanpa ada yang tahu, barang pasti hilang dalam tanganmu!” begitu pernyataannya penuh rasa bangga. Romi adalah satu-satunya orang yang tahu profesiku ini, pun bukan karena aku berbagi rahasia dengannya. Hanya kebetulan dia memergoki aku sedang menggenggam kalung emas milik Cik Siska, perempuan kaya tukang pamer dari RT sebelah. Sore itu, aku mengayuh sepeda untuk pulang dari taman kota. Di saat senggangku dari profesi, teman-teman dan warga di kampung tempat tinggalku hanya tahu kalau aku seorang pelukis. Aku memang sangat suka melukis, di manapun dan kapanpun. Dan sore itu aku ...